foto: detik.com
CIKANEWS/transportasi - Kemampuan konsorsium untuk mendanai pembangunan kereta cepat Bandung – Jakarta tak perlu diragukan. Untuk menyetor modal awal sebagaimana dipersyaratkan oleh Kementerian Perhubungan akan segera dituntaskan pada pekan pertama Januari ini. “Mungkin tanggal 6 Januari sudah lunas,“ jelas Adityawarman, Direktur Utama PT Jasa Marga, di Kantor Presiden, Senin (4/1).
Total modal minimal yang harus disetor konsorsium untuk diterbitkannya izin trase sebesar Rp 1,25 triliun. Dari jumlah itu sebanyak Rp 850 miliar (68%) sudah disetor. Kekurangannya tinggal Rp 400 miliar. Bila kekurangan tersebut sudah disetor, konsorsium sudah bisa mencairkan dana pinjaman sebesar Rp 3,75 triliun dari Bank Pembangunan China (China Development Bank/CDB). “Porsi ekuitas dan pinjaman untuk proyek kereta cepat memiliki rasio satu banding tiga. Jika ekuitas sudah disetor Rp 1,25 triliun, konsorsium sudah bisa mencairkan pinjaman Rp 3,75 triliun,” jelas Bintang Prabowo, Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.
Proyek kereta Cepat Bandung – Jakarta dikerjakan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), merupakan perusahaan bentukan PT Pilar Sinergi BUMN dan konsorsium China dengan komposisi kepemilikan saham 60% Indonesia dan 40% China. Total investasi pembangunan kereta cepat ini mencapai US$ 5,5 miliar (Rp 70 triliun), dimana 25% dibiayai oleh ekuitas konsorsium, dan 75% pinjaman dari CDB.
Konsorsium yang tergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN terdiri dari PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Kereta Api Indonesia dan PT Perkebunan Nusantara VIII. Keempat perusahaan ini memiliki modal untuk mendanai pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta.
Adityawarman menolak jika konsorsium dinilai tak memiliki dana untuk menyetor ekuitas. Sebab perusahaan yang tergabung dengan konsorsium harus mematuhi aturan sebelum menyetorkan dana, misalnya melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB). Namun kini mereka sudah dapat menyetor modal, sehingga pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta bisa segera dilaksanakan pada 21 Januari.
(STO)